Islam Periode Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin – Pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai sejarah peradaban Islam pada masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin :
Periode Rasulullah SAW yaitu masa di mana Beliau masih hidup, dan pada masa itulah penerapan ajaran Islam terlaksana dengan baik dan benar, tepat sesuai Al-Qur’an dan Sunnah, serta tidak menyimpang sedikitpun, khususnya oleh kepribadian beliau sebagai teladan yang secara langsung mendapatkan bimbingan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala lewat perantara Malaikat Jibril.
Amaliah Rasulullah SAW mustahil menyimpang dari petunjuk Al-Qur’an, karena Amaliah inilah yang para sahabat dan oleh para umatnya teladani.
Jadi mustahil jika Rasulullah SAW teledor dalam membimbing dan mengontrol amaliah para sahabatnya.
Amaliah lahir batin Rasulullah SAW yang oleh para sahabat teladani secara langsung serta kepada para pengikutnya sepanjang zaman secara tidak langsung, inilah yang yang kita sebut sekarang sebagai as-sunnah.
Amaliah yang mereka teladani secara langsung secara langsung kemudian menjadi jalan hidup mereka, itulah yang kemudian kita sebut sebagai thoriqoh sahabat.
As-sunnah yang berasal dari Rasulullah SAW pastilah benar dan tepat sesuai Al-Qur’an.
Sedangkan thoriqoh sahabat, khususnya yang secara langsung menghakimi sunnah Rasul dalam sehari-hari, terlebih lagi sahabat 4 yang pada gilirannya yaitu Khulafaur Rasyidin yang kebenarannya terjaga karena sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan as-sunnah, inilah substansi makna as-sunnah dalam lingkup Ahlussunnah Wal Jamaah.
Perbedaan pendapat pertama yang kemudian menjadi Problematika umat Islam mulai muncul sejak Rasulullah SAW wafat.
Baca juga: Tata Cara Menguburkan Jenazah dalam Islam
Lalu semenjak terbunuhnya khalifah ketiga (Usman), Problematika politik semakin menjadi-jadi, berlanjut pada masa kepemimpinan Ali Bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat.
Pada masa ini, perbedaan pendapat yang awalnya berorientasi pada politik, berujung pada persoalan akidah.
Nabi Muhammad SAW wafat pada tanggal 2 Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah atau 8 Juni tahun 632 Masehi.
Pada hari wafatnya, sekelompok kaum Anshar di bawah kepemimpinan Sa’ad bin ubadah dari suku khazraj berkumpul di saqifah Bani Saidah untuk memilih Khalifah.
Tetapi pemimpin pengganti Nabi Muhammad SAW Mendengar hal ini, kemudian kaum Muhajirin datang juga ke saqifah di bawah pimpinan Abu Bakar As Siddiq dan Umar Bin Khattab.
Setelah melewati perdebatan cukup sengit, di mana kaum Anshar mengajukan Sa’ad bin ubadah sebagai calon Khalifah.
Sedangkan kaum Muhajirin mengajukan Abu Bakar As Siddiq atau Umar Bin Khattab, akhirnya semua sepakat mangkat sahabat yang paling utama, yaitu Abu Bakar As Siddiq sebagai khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW.
Catatan: Setelah Rasulullah SAW wafat, kaum Anshar mengajukan Sa’ad bin ubadah sebagai pengganti Rasulullah SAW, sedangkan kaum Muhajirin mengusulkan Abu Bakar Siddiq dan Umar Bin Khattab.
Dan keduanya akhirnya sepakat memilih Abu Bakar sampai masa kekhalifahan sahabat Umar Bin Khattab, perpecahan belum begitu tampak.
Tetapi sejak kekhalifahan Utsman bin Affan, fenomenanya mulai jelas.
Lalu pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, perpecahan menjadi nyata.
Dampak dari perpecahan itulah yang memunculkan perbedaan paham di tengah umat Islam dalam memedomani ajaran agama.
Sejak Abu Bakar di baiat menjadi khalifah, munculnya gerakan pembangkang zakat yang menjadi di sendi rukun Islam.
Di ruang lain, muncul pula gerakan anti Islam di bawah komando nabi-nabi palsu seperti Musailamah al-kadzab, Aswad Al-Ansi dan Thalaihah bin Khuwalid.
Luasnya wilayah pemerintahan Islam di masa kepemimpinan Umar Bin Khattab pun tidak urung menimbulkan dendam terpandang dari para penguasa yang beliau taklukkan.
Timbul gerakan bawah tanah untuk menyusupkan ajaran agama mereka ke dalam ajaran Islam dengan target menghancurkan Islam dari dalam.
Indikasinya sangat jelas, yakni terungkaplah kisah kisah israiliyat di dalam beberapa disiplin keilmuan.
Lebih nyata lagi pada kasus pembunuhan Umar sendiri. Sejarah mencatat bahwa membunuh beliau adalah Abu Lu’luah dan Hurmuzan, kedua orang tersebut adalah Yahudi asal Persia, serta 1 orang Nasrani yang bernama Jufainah.
Inilah indikasi nyata dendam kesumat dari negeri-negeri Taklukkan sahabat Umar Bin Khattab Ra.
Di masa pemerintahan Utsman yaitu antara tahun 23 sampai 35 Hijriyah, wilayah kekuasaan Islam meluas, namun juga muncul beberapa perpecahan.
Abdullah bin Saba’ mulai berhasil mempengaruhi dan meracuni elite politik.
Perasaan tidak puas pada kepemimpinan Utsman bin Affan Semakin menjadi.
Kontra politik sengaja mereka besar-besarkan, dan pemberontakan demi pemberontakan terjadi di Kufah, Basrah, Mesir dan tempat lainnya yang bertujuan untuk menjatuhkan kepemimpinannya.
Pada masa kepemimpinan Ali Bin Abi Thalib, umat Islam mulai lebih jelas terpetakan dalam mazhab politik dan Akidah.
Pada saat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam wafat, umat Islam dalam ranah siyasah atau politik terbagi menjadi 3 golongan :
Jumhur muslimin yaitu mayoritas umat Islam, mereka adalah orang-orang Islam yang menyepakati Abu Bakar ra menjadi khalifah Nabi SAW dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah Islam dan kenegaraan.
Syiah muncul pada tahun 30 Hijriyah dengan pelopor utama yaitu Abdullah bin Saba, pendeta Yahudi Yaman yang masuk Islam dan menjadi pihak oposisi terhadap khalifah Utsman bin Affan.
Saat datang ke Madinah, ia tidak terlalu mendapatkan penghargaan dari khalifah dan umat Islam lainnya sehingga menyimpan kemarahan.
Syiah sendiri sebagian kecil umat Islam yang mendeklarasikan Ali Bin Abi Thalib menjadi khalifah Nabi SAW.
Syiah mempunyai doktrin yaitu Nabi SAW telah berwasiat secara terang-terangan bahwa Ali bin Abi Tholib merupakan khalifah penerus kepemimpinannya.
Sehingga penyeruan doktrin ini terjadi kepada khalayak bahwa hanya Ali yang berhak menjadi khalifah, sedangkan Abu Bakar, Umar dan Utsman tidak sah dan telah merampas hak Ali bin Abi Tholib.
Padahal sebenarnya, beliau justru melarang siapapun yang mengagungkannya melebihi mereka.
Syiah dalam hal Imamah (kepemimpinan) mempunyai pemahaman bahwa :
Penyimpangan Syiah:
Pasca perang shiffin, yaitu perang saudara sesama Islam antara tentara Khalifah Ali Bin Abi Thalib dan tentara Muawiyah bin Abi Sufyan (Gubernur Syria) pada tahun 37 Hijriyah muncullah golongan khawarij, yaitu orang-orang yang keluar dari kelompok Ali dan Muawiyah.
Khawarij merupakan kelompok minoritas yang:
Kesimpulan: Mazhab dalam bidang politik tidak secara langsung mempengaruhi terbentuknya mazhab-mazhab dalam bidang fiqih dan akidah.
Sejak Rasulullah SAW wafat, kaum muslim masih dalam satu mazhab dalam bidang Ushuluddin, namun kemudian muncul Bid’ah akidah.
Tiga politik di atas menjadi titik awal terbentuknya mazhab mazhab dalam bidang akidah.
Dan pada masa akhir sahabat, mazhab akidah berkembang semakin banyak.
Mazhab politik adalah cikal bakal dari terbentuknya mazhab-mazhab dalam bidang akidah.
Itulah pembahasan mengenai Islam Periode Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Semoga apa yang kami sampaikan dapat menambah wawasan keilmuan sejarah kita. Wallahu A’lam